Sarah Cabut Dua Gigi

Hari ini, Sarah berhasil membuat umi bangga, karena sikapnya yang sangat sangat kooperatif sekali, ketika berada di ruang dokter gigi. Ya, Sarah menjalani peristiwa cabut gigi hari ini.

Berangkat pukul setengah sebelas dari rumah, cuaca sudah panas di luar. Bersama umi naik Supra, menuju ke klinik dokter gigi. Sebetulnya, Sarah sudah ke klinik dokter gigi sebelum ini, namun gigi Sarah belum bisa dicabut saat itu, karena menurut dokter, gigi harus digoyang-goyang dulu saja, agar lebih mudah untuk dicabut.

Namun, sudah berkali-kali digoyang, sang gigi belum jua mau tanggal. Malah, gigi sampingnya pun sudah menunjukkan tanda-tanda “kesundul” gigi dewasa. Jadi, dua gigi sudah akan tergantikan oleh gigi dewasa. Mau tidak mau harus dicabut. Akhirnya kami mencari second opinion.

Pilihan pertama, jatuh pada sebuah klinik di dekat terminal Condong Catur. Sebuah klinik (baru sepertinya) yang terletak di pinggir jalan menikung. Drg. Erlina. Begitu nama yang terpajang di sana.

Kami masuk ke klinik, namun sayang sang dokter sedang pergi tak berapa lama sebelum kedatangan kami. Si mbak resepsionis mencoba meng-sms sang dokter namun tak jua ada balasan. Malah ada interupsi sejenak: Sarah minta pipis. Untung saja, ada toilet di situ. Ngga jadi periksa gigi, malah nebeng buang hajat haha.

Akhirnya, kami meneruskan perjalanan, sampai ke perempatan ring road di dekat apotik Depok. Apa ya namanya? Ring road Gejayan? Ya pokoknya di situlahπŸ˜€

Klinik R+ atau R-plus namanya. Baru pertama kali ini saya ke sana. Modal nekat, yang penting gigi harus segera dicabut. Tadi di klinik pertama, si mbak resepsionis sempat bercerita, bahwa jika cabut gigi yang sulit, harus disuntik. Cerita yang sedikit membuat saya grogi sendiri, membayangkan hal-hal yang tidak mengenakkan.

Sampai di sana, kami disambut tidak hanya satu orang, namun beberapa orang berdiri di meja resepsionis. Pikir saya, kok banyak amat resepsionisnya ya? Untung ada AC, jadi ngga gerah hehe.

Si mbak memberitahukan bahwa masih ada satu pasien yang mengantri dan satu pasien yang tengah diperiksa di dalam. Itu artinya, masih menunggu sekitar setengah jam. Saya memutuskan untuk pergi sejenak (menunaikan agenda lain yang sudah direncanakan juga hari ini, di tempat yang tak jauh dari klinik R+ itu) setelah menulis data-data Sarah di kertas kecil, yang nantinya jadi kartu pasien.

Singkat cerita, saya sudah berada di klinik itu lagi, dengan Sarah. Beberapa waktu kemudian, nama Sarah dipanggil. Kami masuk ke ruang periksa dan menemukan satu dokter berkerudung di sana. Saya menyapa dengan salam.

Dokternya ramah sekali dan bisa membuat Sarah nyaman. Walau klinik ini tidak ada nuansa anak-anaknya sama sekali, seperti klinik yang biasanya kami datangi, namun pelayanannya kepada pasien terutama anak kecil, bagus. Dokter juga sudah hafal sekali kalau Sarah Down Syndrome. Sehingga, sempat memberikan sedikit wejangan terkait gigi anak dengan Down Syndrome.

Setelah berkenalan dan ngobrol sejenak dengan dokter, Sarah lantas diminta untuk duduk di kursi periksa. Dipakaikan semacam bib di lehernya. Kursi dinaikkan. Sempat terlihat wajah Sarah agak kaget, tapi masih bisa tenang. Giginya lantas diobservasi, lalu dioles-oles krim rasa strawberry di gusi.

“Udah anget belum?” tanya dokter.

“Udah.” jawab Sarah.

Jadi kegunaan krim strawberry tadi untuk apa ya? Saya juga enggak tahu. Lalu, setelah gusi terasa hangat, dokter segera menyuntik gusi Sarah untuk memasukkan bius. Saya agak deg-degan sendiri tapi penasaran. Saya tawarkan tangan saya untuk menggenggam tangan Sarah, jaga-jaga jika dia berontak.

Tangan saya udah megang kenceng aja, eh si Sarah ngga bereaksi apa-apa. Dia menikmati saja jarum yang disuntikkan ke gusinya itu. Alhamdulillah… Sampai di sini saya agak tenang.

Step berikutnya, pencabutan gigi. Saya lihat ada semacam tang kecil di situ. Dokter sudah ngobrol dari tadi, agar Sarah tetap tenang.

 

Tang segera dijepitkan ke gigi Sarah, tapi ternyata tang tersebut terlalu besar. (atau gigi Sarah yang terlalu kecil?πŸ˜€ ) Akhirnya, ganti tang lain yang lebih kecil. Dijepitkan, dan ternyata masih kurang pas saja.

Akhirnya, dokter ngambil semacam obeng. (Lah, peralatan dokter gigi kaya montir ya ternyata… Haha).

“Sakit enggak?” tanya dokter.

“Endak.” jawab Sarah.

Begitu percakapan mereka sepanjang proses ini. Dan ahamdulillah, Sarah masih tenang dari tadi.

Trus dicongkel-congkel itu gigi, lalu dengan penjepit digoyang-goyang, ke sana ke mari, dan setelah kondisinya pas, langsung dicabut. Ah, legaaa… Satu gigi tercabut. Darah mengucur.. Lalu Sarah diinta kumur.

Masih ada satu gigi lagi, dan dilakukan hal yang sama dengan gigi pertama tadi.

Sekarang dua-duanya sudah tercabut. Lega rasanya. Dokter pun mengajak Sarah untuk “toss”. Sarah juga tampak senang karena keberhasilan itu. Setelah selesai semuanya, gigi yang tercabut dibawa pulang plastik plastik. Yah.., kirain pakai tempat khusus berbentuk gigi lucu itu.. kan Sarah lebih hepi mungkin ya..πŸ˜€

Ya sudah, yang penting semua sudah dilalui dengan baik. Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya.πŸ™‚

Oh ya, sedikit info untuk tarif di klinik tersebut. Menurut saya, memang agak mahal ya. Untuk pencabutan dua gigi tadi habis tiga ratus ribu. Mungkin karena pakai bius segala. Sekedar perbandingan, kalau di klinik tempat Syifa cabut gigi dulu, sekali cabut 50.000 saja, tanpa bius dan tanpa alat apa pun. Mungkin karena sudah cukup goyang, jadi langsung cabut pakai tangan dokter.

Terlepas dari mahalnya, namun dokternya oke banget. Rekomended. Namanya drg. Nakita. Catet ya, barangkali mau janjian dengan beliau di sana.πŸ™‚

Oh iya (lagi), ini penampakan gigi Sarah setelah dicabut. Ada dua lubang, dan dua gigi dewasa yang udah nongol di sana. Semoga besok bisa rapi tumbuhnya, aamiin.πŸ™‚

gigi-sarah-dicabut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s