Sarah Tes IQ

Sebagai seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus, maka harus siap ketika melihat adanya perbedaan antara anaknya dengan anak lain yang notabene tidak mempunyai kekurangan. Sejak bayi, anak berkebutuhan khusus memang sudah menampakkan adanya perbedaan. Semakin tumbuh dan berkembang, perbedaan itu makin jelas. Seperti yang kualami saat hendak memasukkan Sarah ke sekolah.

Kemarin pagi, kami (saya dan Sarah) diberi kesempatan untuk melaksanakan tes IQ untuk anak saya Sarah.
Sang psikolog pun bertanya banyak hal, mulai dari kelahiran Sarah hingga perkembangan Sarah sampai saat ini.

Bercerita tentang kehamilan, di otak saya seperti slide show yang berputar-putar. Saat merasakan kontraksi yang parah, saat melahirkannya tanpa mendengar tangisan, saat pertama kali diberitahu oleh dokter anak bahwa ada yang lain pada Sarah, serta ketika semua dinyatakan benar adanya (bahwa Sarah Down Syndrome) dan tangis pun pecah berhari-hari, bahkan minggu.

Tapi semua sudah berlalu. Ceritaku mengalir melalui mulutku dengan biasa saja. Tak ada air mata sedikit pun.

Justri air mata itu seperti akan tumpah, sehari sebelum tes ini berlangsung.
Kemarin, hari Senin, pertama kalinya saya membawa Sarah untuk observasi sekaligus berkenalan dengan ustadzah pengampu kelas play group.
Air mata ini hampir tumpah ketika menyaksikan anak-anak lain bergantian murojaah surat Al Qori’ah, di sebuah ruangan kecil, kira-kira berukuran 3×5 meter. Anak-anak yang seusia dengan Sarah dengan lancar melantunkan surat itu. Sedangkan Sarah, tentu saja ia tak bisa mengikuti teman-temannya. Namun ia duduk dengan tenang dalam lingkaran kecil. Saya mencoba mengalihkan perhatian, memandang sekeliling, melihat gambar pesawat di tembok, angka-angka yang berwarna-warni dari satu hingga sepuluh, mainan yang digantung, dan sebagainya. Semata agar air mata ini tak jatuh🙂

Ya, itu sedikit cerita Sarah di hari observasinya.

Kembali ke tes IQ tadi.

Psikolog yang juga mantan ustadzah di TK itu pun penasaran akan penyebab mengapa anak saya terlahir DS. Sampai sekarang pun penelitian juga belum menemukan sebab yang pasti.
Adanya stressor?
Mungkin saja, tapi sepertinya saya tidak menderita stress ketika menemani suami studi di Australia dulu, tempat di mana Sarah dilahirkan.
Kekurangan nutrisi?
Saya kira tidak juga. Bahkan ketika hamil, dokter memberiku vitamin yang sangat bagus berlabel Blackmores. Saya kira vitamin mahal sebanding dengan manfaatnya.
Kehamilan lancar? Tidak merasakan kelainan?
Saya jamin lancar-lancar saja. Wong saya saja biasa kontrol dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 2km😀 Dan ini yang menjadi pemicu Sarah lahir sangat cepat sampai badan saya menggigil waktu itu.

Semua lancar. Namun ada satu yang saya sadari, jauh setelah Sarah lahir. Saya sempat menulis catatan waktu itu, tentang gerak Sarah saat masih di perut. Di catatan itu, saya lihat ada yang berkomentar (di blog), bahwa gerakan anaknya jauh lebih banyak dari yang saya ceritakan di sana. Baru kemudian saya sadar, memang gerak janin Sarah ketika di perut sangat kurang, walaupun memenuhi target 10 gerakan per hari seperti teori kesehatan pada umumnya.

Tes ditutup dengan menggambar.
Sarah diminta menirukan bentuk yang ada di kertas itu. Bentuknya berupa: garis lurus vertikal, garis lurus horisontal, dan lingkaran.
Untuk bentuk pertama dan kedua, Sarah menggambar bentuk yang sama, garis lurus vertikal. Sedangkan untuk lingkaran, dia belum bisa. Gambar yang terbentuk malah seperti kombinasi garis lancip dan lengkung, ‘boleh bundhet’ istilah Jawa-nya hehe.

Tes selesai, kami pun pulang.
Sampai rumah, Sarah langsung tidur lelap.
Menunggu hasil tes dan juga kemungkinan ditolak. Harapan itu ada, tapi tetap harus realistis. Saya memang berkeinginan memasukkan Sarah ke sekolah kakaknya dulu. Sekolah dengan pelajaran dienul Islam yang sangat bagus. Hafalan surat pendek, do’a sehari-hari dan juga hadits-hadits shahih. Saya dan suami tak pernah punya keinginan muluk, bahwa Sarah harus pintar menulis, berhitung, dan sebagainya. Kami hanya ingin telinganya terbiasa mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an. Kami ingin Sarah berada di lingkungan yang baik, tumbuh dan berkembang bersama saudara-saudaranya seakidah. Semoga Sarah bisa menjadi bagian dari keluarga di sana, sama seperti kakaknya dulu.

Selamat berjuang untuk teman-teman yang juga akan memasuki sekolah barunya ya🙂

4 comments on “Sarah Tes IQ

  1. bita says:

    selamat sekolah mbak sarah..salma jg tahun ini masuk sekolah.alhamdulillah ada dkt rmh tanpa nyabrang jalan..hehe.cabangnya jamil. smg semua lancar ya mbak amin

  2. Kartika says:

    salam kenal ya sarah…., aku salma 11 thn

  3. Luthfi Aji Asmoro says:

    Tetap semangat bu…
    mohon info anaknya tes IQ dimana ya bu..
    anak saya yang bungsu DS jg… umur 5 tahun skrg sekolah di jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s