Children House: Rumah Kedua Sarah

September 2010

Kliniknya kecil, hampir-hampir kami tidak menemukannya. Dua kali pencarian, akhirnya baru ketemu tempat fisioterapi yang kemarin “diancer-anceri” oleh terapis di Sardjito. Awalnya, umi datang sendiri dengan bermotor setelah gagal menemukannya waktu mencari bersama ayah. Beruntung umi langsung bisa bertemu dengan ketua pengelola kliniknya, ibu Asih yang mantan perawat Sardjito.

Kala itu hari Rabu sore. Klinik sedang ramai karena digunakan untuk suatu acara. Umi tidak tahu acara apa, namun ada beberapa dokter di sana. Belakangan baru tahu, bahwa setiap hari Rabu sore pekan ke empat, ada kunjungan dokter spesialis syaraf dari RS Sardjito yang memungkinkan pasien klinik atau siapa saja yang berminat untuk berkonsultasi secara gratis.

Tuturnya yang lembut dan selalu optimistis memberikan nasihat kepada umi, membuat hati ini tentram berada di sana. Ibu Asih juga selalu melempar senyumnya kepada siapa saja yang berbicara kepadanya, membuat setiap yang datang betah ngobrol dengannya.

Hari pertama membawa Sarah, umi dibuat trenyuh melihat keadaan di sana. Ternyata banyak orang yang sedang bernasib kurang beruntung. Semua pasien yang berada di sana mempunyai kekurangan yang dapat dilihat secara kasat mata. Ada yang tangan dan kakinya kaku karena kejang sewaktu bayi. Ada yang tatapan matanya kosong dan hanya bisa bertepuk tangan saja. Ada anak kecil berusia 5 atau 6 tahun yang belum mampu berjalan sendiri karena virus CMV menyerang tubuhnya. Ada juga balita yang karena lahir prematur, badannya sangat kecil tidak sebanding dengan usianya, membuatnya juga lambat berkembang.

Lebih trenyuh lagi saat mendengar jerit tangis mereka sewaktu diterapi. Sarah pun saat diterapi juga menangis kencang; hal yang jarang dilakukannya pada kondisi normal.

Children House (CH) namanya, sebuah tempat fisioterapi yang menjadi rumah kedua bagi Sarah. Jadwal fisioterapi Sarah dua kali sepekan, yaitu hari Senin dan Rabu. Tarifnya lumayan murah, 30ribu rupiah saja, dengan lama terapi sekitar 45 menit.

Di sini Sarah mendapatkan banyak teman. Di sini pula umi mendapat suntikan semangat untuk tetap bersyukur, bahwa ternyata ada hamba-Nya yang masih lebih berat ujian hidupnya.

Lima bulan Sarah terapi di CH, ada info klinik lain yang menurut salah seorang teman lebih bagus. Teman yang memberikan info ini adalah salah satu orang tua yang juga memiliki anak DS. Kami senang akhirnya bisa bertemu dengan teman “seperjuangan”. Kisah teman dan klinik baru nanti di postingan lain ya…🙂

2 comments on “Children House: Rumah Kedua Sarah

  1. bulusan, canden, jetis, bantul says:

    children house dimana ya alamatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s