Watermelon Seeds Counting – Berhitung yang Menyenangkan

Sebagai ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus, saya merasa harus mencari metode yang asyik dan menyenangkan untuk belajar bagi anak saya.
Selain menggunakan worksheet yang tersebar gratis di internet, saya juga sering mencari lembar aktivitas untuk anak. Seperti yang satu ini. Watermelon Seeds Counting.

Sarah Belajar Berhitung

Dengan alat peraga ini, anak diharapkan mampu berhitung dengan cara yang menyenangkan.
Menggunakan plastisin yang dibentuk bulat-bulat kecil sebagai bijinya, anak diarahkan untuk meletakkan biji-biji tersebut di atas gambar semangka.

Problemnya, kadang-kadang ketika mengambil dan mengucapkan angka, tidak sinkron, sehingga menjadi salah jumlahnya.

Di sinilah perlunya pengulangan dalam metode belajar ABK. Dengan terus mengulang berhitung, anak juga belajar spelling yang benar saat mengucapkan angka tersebut.

Bagi yang mau download alat peraga ini, bisa klik https://modernpreschool.com/printable-watermelon-counting-cards/
Saran saya, print dengan kertas ivory yang agak tebal, agar tahan lama.

Selamat belajar berhitung.. 🙂

Advertisements

Belajar Baca Al-Qur’an Untuk Down Syndrome

IMG_20171211_095928_20171211101535950
Alhamdulillah, Sarah sudah mengenal semua huruf hijaiyah. Meski kadang ada satu dua huruf yang harus diingatkan lagi ketika lupa.

Sekarang, Sarah mulai mengenal tanda baca lain, selain fathah, yaitu kasroh dan dhommah.

Kami menggunakan buku Metode Asy-Syafi’i, Cara Praktis Baca Al-Qur’an karya Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

IMG_20171211_095945

Untuk pengenalan sebelum memakai buku ini, Sarah memakai alat bantu berupa kartu huruf hijaiyah yang kami unduh dari sini https://ummuumar18.wordpress.com/free-printable/

Teman kami ada juga yang membuat flash card hijaiyah dan bisa diunduh di sini https://muslimkecil.com/download-flashcard-huruf-hijaiyah/

Tips mencetak flashcard:
Menggunakan kertas Ivory. Bisa pilih yang agak tebal, 270 gram. Selembar sekitar 4500 rupiah. Satu set kartu (jika tidak salah ingat) butuh lima lembar.

Ingat, mengajari anak DS butuh ketelatenan. Pengalaman saya, mengajari Sarah dan adiknya, bisa lebih mudah adeknya dalam memahami. Maka, tetap diulang-ulang, itu kuncinya.

Dari a-i-u sampai ya-yi-yu bisa berhari-hari, karena selain hafalan, juga mengajari spelling. Terutama untuk huruf-huruf yang agak susah dilafalkan, mengingat anatomi mulut anak DS berbeda dengan anak normal.

Tetap semangat dan selalu memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada Anak-anak.
Semoga Allah menjadikan kita khoirunnaas, dengan wasilah belajar Qur’an dan mengajarkannya, seperti dalam hadits dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Kejutan Saat Lelah

Pernah rasanya sudah di ujung kesabaran. Sudah mentok mengajari. Lalu kami pun berhenti. Kertas-kertas untuk latihan saya punguti. Crayon dan pensil saya kembalikan ke lemari.

Sempat merasa menyesal karena tadi sesekali mengeluarkan intonasi tinggi.

Si guru sedikit emosi.
Mood si murid entah ke mana pergi.
Sesi belajar pun diakhiri.

Namun, beberapa saat kemudian, dia menunjukkan gambar ini. Awalnya hanya satu angka saja.
Dia tiba-tiba berlari menghampiri umi, sambil bilang, “Mi, ini..”

image

Saya kaget. Tak percaya.
“Ini Sarah yang nulis?”
Heem. Jawabnya mantap.

Coba tulis lagi. Sekali, dua kali, tiga kali.
Tiga buah angka sembilan ia tulis lagi.

Ya Allah, rasanya ingin menangis..
Masya Allah..

Bersyukur…
Bersyukur…

Jangan menyerah..
Meski lelah…
Meski hasil itu, akan didapat kapan, entah..

Niatkan semua untuk Allah.
Allah yang Paling Memahami Kita.
Pasrahkan saja pada-Nya.

Hadiah Buat Sarah

Kemarin umi mendapat pesan WA dari Klinik Gigi R+ langganan kami. Dalam pesan tersebut, pihak R+ bercerita bahwa mereka telah membaca blog umi tentang kisah cabut gigi Sarah, dan mereka senang dengan testimoni umi kepada R+. Lalu umi pun diminta membuat testimoni singkat R+ untuk keperluan marketing.

Umi memang puas dengan pelayanan Klinik Gigi R+ selama ini, sehingga umi senang ketika menulis testimoni tersebut.
Dan alhamdulillah, mereka memberikan reward berupa souvenir cantik ini. Sarah pun senang sekali.

image

Sampai rumah, begitu membuka pintu, langsung dia teriak, tanda senang sekali, dan memperlihatkan mainan itu pada kedua saudaranya. (Mbak Syifa belum pulang sekolah kala itu).

Tapi… Tentu saja karena boneka imutnya cuma satu, sementara anak umi ada empat, kebayang dong gimana serunya mereka “menyambut” mainan baru ini.. 😀

Btw biasanya sih mba Syifa, anak umi yang paling gede sudah ngga tertarik lagi rebutan mainan. Dan gelas kecil imut bertuliskan “R+ Klinik Gigi, Your reason to smile” itu mungkin yang lebih memikat hatinya.

Alhamdulillah, terimakasih R+, semoga selalu sukses dan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pada para pelanggan.

Menulis Angka 1-5

Sarah baru sampai di sini. Alhamdulillah, sudah bisa menulis angka satu sampai lima. Melewati step yang panjang, dalam waktu yang tidak sebentar.

Saya membuat metode khusus untuk Sarah, dengan cara memegangi tangannya dan mengarahkan ke bentuk angka, berulang-ulang. Sambil mengucapkan kalimat tertentu, sesuai dengan bentuk huruf.

Misalnya,
Satu: biasa aja, karena hanya garis lurus.
Dua: mblendhuk, sreet.
Tiga: mblendhuk, mblendhuk
Empat: pendek, pendek, panjaaang
Lima: satu, mblendhuk, kasih topi
Demikian Sarah menulis sambil mengucapkan kata2 itu, sesuai arah gerak pena membentuk angka.

Karena, ternyata, Sarah belum bisa ke tahap langsung meniru. Kalau untuk tracing bisa, tapi menurut saya akan lama jadinya, karena dia justru akan konsentrasi pada kerapian, bukan bentuk itu sendiri. Melenceng dikit, dihapus, atau diulang. Maka proses menulis angka jadi terganggu arahnya.

image

Setelah berhasil menulis angka 1 sampai 5, kami pun akan melanjutkan angka 6.
Seperti problem yang sudah-sudah, Sarah kesulitan menirukan langsung, meski sudah melewati tahap tracing, tetap saja susah untuk meniru.
Akhirnya dengan cara yang sama, saya pegangi lagi tangannya. Sambil mengucapkan, “C, bulet.” Karena angka 6 bentuknya seperti huruf C dikasih buletan di bawah. Sebelumnya saya juga mengajarkan menulis huruf C.

Sayang, seribu sayang (dan pada tahap ini saya harus bersabar, karena muncul kendala), Sarah jadi agak terganggu konsentrasinya ketika menulis angka dua.
Biasanya, dia lancar saja nulis angka 2. Namun, begitu diperkenalkan dengan huruf C dan angka 6, orientasi arahnya jadi kacau.

image

Terlihat di gambar, ketika mau menulis angka 2, jadinya malah C. 😦
Ya sudah, tetap harus diulang-ulang.

Besok kita latihan lagi ya mba Sarah. Semangat, insya Allah bisa.