Anak Down Syndrome Itu UnikΒ 

Satu dari sekian hal yang perlu diingat adalah bahwa meski sama-sama DS, namun tetaplah berbeda, dari segi kemampuan, IQ, kemandirian, dsb. Sama saja lah dengan anak “normal”, yang walau sama-sama “normal” tidak ada kelainan apa pun, namun dari segi kepandaian, kemandirian, daya ingat, inisiatif, dsb tetap tidaklah sama. 

Maka… 
Jangan pernah berharap anak DS kita harus seperti anak DS lain. 
Misalnya, usia tiga tahun belum bisa berjalan, sementara ada yang dua tahun kurang sudah mampu. 
Misalnya lagi, ada yang usia delapan tahun sudah bisa membaca, namun yang lain bahkan belum bisa hafal alfabet. 
Nikmati saja proses belajarnya. Temani dan arahkan anak, agar mereka juga bisa mampu seperti yang lain. 
Mampu membaca, menulis, mandiri, meski harus dilatih berkali-kali. Meski mungkin baru bisa melakukannya sekian tahun kemudian. 

*pengingat*​

Sarah Cabut Gigi Lagi

Judulnya… Mirip postingan sebelumnya. Cabut gigi lagi.. Hihi. Postingan terakhir Oktober 2016, yang berarti hampir setahun lalu. Ngga kerasa.. Tandanya umi malas update blog mbak Sarah hehe. Seringnya posting pendek-pendek saja di ig. Monggo yang punya akun instagram boleh follow ig Sarah @downsyndrome_indonesia. Nanti Sarah folback deh πŸ˜‰

Ok, kembali ke bahasan cabut gigi.

Sebenarnya, umi pengen merasakan gigi mbak Sarah bisa tanggal sendiri. Namun, qadarullah selama ini, hal itu belum pernah terjadi. Sudah tiga kali mbak Sarah harus dicabut giginya, karena gigi dewasa sudah tumbuh duluan. Biasanya, gigi susu goyah dikit sekali, sudah terlihat calon gigi dewasa. Dan kalau nunggu tanggal sendiri kok lama, keburu gigi dewasa semakin tumbuh besar.

Akhirnya, kemarin pun begitu. Gigi seri yang dekat gigi taring, sudah terlihat calon gigi dewasa yang akan menggantikannya. Istilah jawanya “kesundul”. Waktu itu umi lihat sekitar puasa, yang berarti sudah sebulan lebih. Karena tidak tanggal juga si gigi susu, akhirnya umi datang lagi ke klinik gigi yang biasanya. Umi suka ke klinik tersebut karena dokternya ramah, suka ngajak ngobrol mbak Sarah, dan juga jamnya pagi, pas mbak Sarah juga masih fresh.

Datang antrian pertama, kami menunggu sekitar tiga puluh menit sampai dokter datang. Mbak Sarah sempat minum jamu dulu hehe. Kebetulan di depan klinik ada penjual jamu, lalu minta dibelikan.

Tak berapa lama kemudian, nama Sarah dipanggil. Kami pun masuk ke ruang periksa. Dokter sudah menyambut kedatangan kami dan langsung mengajak ngobrol Sarah. Sarah pun asik menanggapi dan juga cerita apa saja, walau tidak begitu jelas πŸ˜€ Namun dokter setia mendengarkan.

Dokter pun memeriksa gigi Sarah dan ternyata memang masih goyang sedikit. Tapi tetap harus dicabut. Akhirnya dengan perlakuan yang sama dengan dulu, yaitu mengolesi gusi Sarah dengan krim strawberry, kemudian disuntik gusinya.

“Sakit ngga?” tanya dokter.

“Ndak.” jawab Sarah.

Lalu dokter pun mengambil alat, kemudian mencongkel gigi Sarah. Tidak berapa lama, gigi sudah tercabut. Sarah lalu kumur-kumur dan dokter memberikan kapas yang digigit untuk membantu agar darah tidak keluar lagi.

Dan, inilah penampakan gigi Sarah yang menurut umi sangat panjang. Sengaja difoto dengan meteran, biar keliatan.

Lihat saja, total panjang giginya 1 cm 3 mm. Dan bagian yang tampak dari luar hanya 0,5 cm saja. Itu artinya, bagian yang menancap di gusi jauh lebih panjang. Mungkin ini yang menyebabkan ketika gigi goyah, akan lama untuk tanggal. Ibarat sebuah tanaman yang akarnya panjang, maka akan sulit dicabut. Makanya, gigi anak DS seringkali berjejal, karena gigi susu belum tanggal, sudah disusul gigi dewasa.

Dan, ini gigi-gigi yang lain, yang umi simpan.

Dan… ini Sarah bersama bu dokter Nikita… πŸ™‚

Umi tidak banyak mengabadikan gambar Sarah saat dicabut giginya, karena bisa-bisa nanti perhatian Sarah malah terganggu karena lihat hp..

Dan, ini dia penampakan gigi baru Sarah…


Kata dokter disuruh maju-majukan pakai lidah. Istilah jawanya “dipadal”. Semoga besok bisa rapi ya, Nak…

Sarah Cabut Dua Gigi

Hari ini, Sarah berhasil membuat umi bangga, karena sikapnya yang sangat sangat kooperatif sekali, ketika berada di ruang dokter gigi. Ya, Sarah menjalani peristiwa cabut gigi hari ini.

Berangkat pukul setengah sebelas dari rumah, cuaca sudah panas di luar. Bersama umi naik Supra, menuju ke klinik dokter gigi. Sebetulnya, Sarah sudah ke klinik dokter gigi sebelum ini, namun gigi Sarah belum bisa dicabut saat itu, karena menurut dokter, gigi harus digoyang-goyang dulu saja, agar lebih mudah untuk dicabut.

Namun, sudah berkali-kali digoyang, sang gigi belum jua mau tanggal. Malah, gigi sampingnya pun sudah menunjukkan tanda-tanda “kesundul” gigi dewasa. Jadi, dua gigi sudah akan tergantikan oleh gigi dewasa. Mau tidak mau harus dicabut. Akhirnya kami mencari second opinion.

Pilihan pertama, jatuh pada sebuah klinik di dekat terminal Condong Catur. Sebuah klinik (baru sepertinya) yang terletak di pinggir jalan menikung. Drg. Erlina. Begitu nama yang terpajang di sana.

Kami masuk ke klinik, namun sayang sang dokter sedang pergi tak berapa lama sebelum kedatangan kami. Si mbak resepsionis mencoba meng-sms sang dokter namun tak jua ada balasan. Malah ada interupsi sejenak: Sarah minta pipis. Untung saja, ada toilet di situ. Ngga jadi periksa gigi, malah nebeng buang hajat haha.

Akhirnya, kami meneruskan perjalanan, sampai ke perempatan ring road di dekat apotik Depok. Apa ya namanya? Ring road Gejayan? Ya pokoknya di situlah πŸ˜€

Klinik R+ atau R-plus namanya. Baru pertama kali ini saya ke sana. Modal nekat, yang penting gigi harus segera dicabut. Tadi di klinik pertama, si mbak resepsionis sempat bercerita, bahwa jika cabut gigi yang sulit, harus disuntik. Cerita yang sedikit membuat saya grogi sendiri, membayangkan hal-hal yang tidak mengenakkan.

Sampai di sana, kami disambut tidak hanya satu orang, namun beberapa orang berdiri di meja resepsionis. Pikir saya, kok banyak amat resepsionisnya ya? Untung ada AC, jadi ngga gerah hehe.

Si mbak memberitahukan bahwa masih ada satu pasien yang mengantri dan satu pasien yang tengah diperiksa di dalam. Itu artinya, masih menunggu sekitar setengah jam. Saya memutuskan untuk pergi sejenak (menunaikan agenda lain yang sudah direncanakan juga hari ini, di tempat yang tak jauh dari klinik R+ itu) setelah menulis data-data Sarah di kertas kecil, yang nantinya jadi kartu pasien.

Singkat cerita, saya sudah berada di klinik itu lagi, dengan Sarah. Beberapa waktu kemudian, nama Sarah dipanggil. Kami masuk ke ruang periksa dan menemukan satu dokter berkerudung di sana. Saya menyapa dengan salam.

Dokternya ramah sekali dan bisa membuat Sarah nyaman. Walau klinik ini tidak ada nuansa anak-anaknya sama sekali, seperti klinik yang biasanya kami datangi, namun pelayanannya kepada pasien terutama anak kecil, bagus. Dokter juga sudah hafal sekali kalau Sarah Down Syndrome. Sehingga, sempat memberikan sedikit wejangan terkait gigi anak dengan Down Syndrome.

Setelah berkenalan dan ngobrol sejenak dengan dokter, Sarah lantas diminta untuk duduk di kursi periksa. Dipakaikan semacam bib di lehernya. Kursi dinaikkan. Sempat terlihat wajah Sarah agak kaget, tapi masih bisa tenang. Giginya lantas diobservasi, lalu dioles-oles krim rasa strawberry di gusi.

“Udah anget belum?” tanya dokter.

“Udah.” jawab Sarah.

Jadi kegunaan krim strawberry tadi untuk apa ya? Saya juga enggak tahu. Lalu, setelah gusi terasa hangat, dokter segera menyuntik gusi Sarah untuk memasukkan bius. Saya agak deg-degan sendiri tapi penasaran. Saya tawarkan tangan saya untuk menggenggam tangan Sarah, jaga-jaga jika dia berontak.

Tangan saya udah megang kenceng aja, eh si Sarah ngga bereaksi apa-apa. Dia menikmati saja jarum yang disuntikkan ke gusinya itu. Alhamdulillah… Sampai di sini saya agak tenang.

Step berikutnya, pencabutan gigi. Saya lihat ada semacam tang kecil di situ. Dokter sudah ngobrol dari tadi, agar Sarah tetap tenang.

 

Tang segera dijepitkan ke gigi Sarah, tapi ternyata tang tersebut terlalu besar. (atau gigi Sarah yang terlalu kecil? πŸ˜€ ) Akhirnya, ganti tang lain yang lebih kecil. Dijepitkan, dan ternyata masih kurang pas saja.

Akhirnya, dokter ngambil semacam obeng. (Lah, peralatan dokter gigi kaya montir ya ternyata… Haha).

“Sakit enggak?” tanya dokter.

“Endak.” jawab Sarah.

Begitu percakapan mereka sepanjang proses ini. Dan ahamdulillah, Sarah masih tenang dari tadi.

Trus dicongkel-congkel itu gigi, lalu dengan penjepit digoyang-goyang, ke sana ke mari, dan setelah kondisinya pas, langsung dicabut. Ah, legaaa… Satu gigi tercabut. Darah mengucur.. Lalu Sarah diinta kumur.

Masih ada satu gigi lagi, dan dilakukan hal yang sama dengan gigi pertama tadi.

Sekarang dua-duanya sudah tercabut. Lega rasanya. Dokter pun mengajak Sarah untuk “toss”. Sarah juga tampak senang karena keberhasilan itu. Setelah selesai semuanya, gigi yang tercabut dibawa pulang plastik plastik. Yah.., kirain pakai tempat khusus berbentuk gigi lucu itu.. kan Sarah lebih hepi mungkin ya.. πŸ˜€

Ya sudah, yang penting semua sudah dilalui dengan baik. Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya. πŸ™‚

Oh ya, sedikit info untuk tarif di klinik tersebut. Menurut saya, memang agak mahal ya. Untuk pencabutan dua gigi tadi habis tiga ratus ribu. Mungkin karena pakai bius segala. Sekedar perbandingan, kalau di klinik tempat Syifa cabut gigi dulu, sekali cabut 50.000 saja, tanpa bius dan tanpa alat apa pun. Mungkin karena sudah cukup goyang, jadi langsung cabut pakai tangan dokter.

Terlepas dari mahalnya, namun dokternya oke banget. Rekomended. Namanya drg. Nakita. Catet ya, barangkali mau janjian dengan beliau di sana. πŸ™‚

Oh iya (lagi), ini penampakan gigi Sarah setelah dicabut. Ada dua lubang, dan dua gigi dewasa yang udah nongol di sana. Semoga besok bisa rapi tumbuhnya, aamiin. πŸ™‚

gigi-sarah-dicabut

Belajar Tentang Warna

kartu-memori-warna

Anak dengan Down Syndrome, agak susah menghafal. Maka, penyebutan berulang-ulang akan membantu mereka untuk lebih cepat dalam menghafal apa pun. Ya, menghafal apa saja.

Kami sudah mencoba untuk mengenalkan Sarah pada nama-nama binatang. Beberapa kali diulang-ulang dengan main kartu bergambar binatang.

Lalu, mengenalkan Sarah pada warna. Dan, ternyata agak susah dibandingkan dengan menghafal gambar binatang. Tapi, sekali lagi, tak ada yang tak mungkin jika kita selalu memohon kepada-Nya. Allah Maha Mengabulkan do’a. Mari berdo’a dan selalu berusaha memberikan pengajaran kepada anak spesial kita.

Anak-anak senang bermain. Maka kami coba cara untuk mengenalkan warna dengan bermain bola. Kebetulan juga ada adik mba Sarah, yaitu dek Maryam yang setia menemani belajar mba Sarah.

Kami bermain mencocokkan warna bola dengan warna kartu. Kartu-kartu warna ini berupa kartu warna biasa yang dilaminating, agar awet dan tidak mudah sobek.

Satu per satu, gantian mba Sarah dan adik, mengambil bola, lalu menaruhnya di atas kartu sesuai dengan warnanya. Tentu saja, ketika mengambil bola sambil menyebutkan warnanya.

Kadang, umi jadi senyum sendiri, karena dek Maryam lebih cepat menghafal dan menyebutkan warnanya. Hal ini membuat mba Sarah agak kurang senang karena adiknya mendapat bola, dan ia tidak. Karena sesuai dengan peraturan, yang bisa menyebutkan warnanya, baru boleh mengambil bola. πŸ˜€

Permainan warna ini masih dilakukan sebagai selingan kegiatan menulis, menggambar, dan mewarnai. Selalu ada permainan mengulang hafalan warna-warna. Mengulang, agar cepat hafal. Sampai saat ini sudah ada warna: merah, kuning, hijau, biru, pink, putih, dan hitam yang sudah Sarah hafal meski kadang ada yang masih lupa maupun lama menyebutkannya πŸ™‚

KGRN

Salah satu “masalah” anak Down Syndrome adalah kelemahan ototnya. Tak terkecuali otot mulut. Lemahnya otot2 mulut tsb membuat mereka kesulitan dalam berbicara.

KGRN dalam judul ini, bukanlah sebuah singkatan yg artinya Ke-GR-aN, tapi ia adalah huruf2 yg sampai sekarang masih susah keluar dari bibir mungil Sarah. Sebetulnya tambah satu lagi, C.

Ya, K,G,R,N, dan C, kelimanya melibatkan langit-langit mulut untuk membentuk huruf2 tsb.
Entah ya, mungkin karena (katanya) langit2 mulut anak Down Syndrome itu tinggi, jd susah untuk disentuh oleh sang lidah.

Dulu, ketika masih terjadwal terapi wicara, Sarah selalu disikat lidah dan mulut bagian dalamnya, oleh terapis. Setelah tidak terapi lagi, maka ritual penyikatan lidah pun menghilang.
Padahal sikat2 itu masih ada.
Nah, sekarang kami berkomitmen lagi untuk memulai kembali ritual tsb, selain tentu saja menyikat gigi Sarah (walaupun banyak yg bolong 😦 )

Untungnya, sekarang Sarah sudah gampang dalam urusan sikat menyikat. Disikat rahang atas pun, dengan sikat yg berbentuk spt gerigi, juga dia anteng2 saja, kooperatif sekali.

Semoga usaha ini, membuahkan hasil. Agar cepet jelas ngomongnya ya… πŸ™‚

Belajar Menerima Down Syndrome

c360_2016-09-20-09-43-48-838_20160922132554133

Sesaat setelah diberitahu bahwa Sarah Down Syndrome, pihak rumah sakit langsung memberikan satu kit tentang Down Syndrome. Segala hal yg berkaitan dgn perawatan bayi dgn Down Syndrome, ada di sana.

Menerima map lengkap tersebut, saya seperti flash back di masa kehamilan. Percaya atau tidak, saat hamil Sarah di Sydney itu, saya sering membaca artikel tentang Down Syndrome. Sy tahu ttg ciri-ciri anak dengan Down Syndrome, dan kebetulan juga beberapa kali jumpa anak DS di jalan. Saya pun tahu tentang cara mengecek kehamilan yg beresiko anaknya lahir dgn Down Syndrome. Ya, seperti mimpi buruk yg menjadi kenyataan kalau pada akhirnya anak saya termasuk salah satunya.

Tapi seperti pepatah, bahwa kamu tidak akan pernah (betul-betul) tahu, sampai kamu mencoba. Dalam hal ini, sampai kamu memilikinya sendiri.

Bayangan saya, saat melihat gambar-gambar di sini dan pemaparan di dalamnya, anak saya akan begitu “mengerikan” karena tidak bisa apa2, selalu lambat, dan tertinggal. Sampai ketika sekarang saya melihat perkembangannya, saya bisa membuang jauh-jauh pemikiran itu.

Dia bisa.

Dia bisa  bicara, dia bisa menulis, dia bisa menghafal, dia mampu mengerti perintah dan larangan, dsb. Nyatanya, anak dengan Down Syndrome tidak se”mengerikan” yg saya kira dulu. 

Mungkin, kita hanya harus bersabar untuk mampu melihatnya. Bersabar lebih banyak lagi untuk melihat hasil yang lebih baik lagi.

Belajar menerima kondisi anak yang special memang tidak bisa seketika. Ia butuh proses. Jika pada awalnya ada perasaan sedih dan menolak, hal itu wajar dan hampir semua orang tua yg baru memiliki anak DS mengalaminya.

Bagaimana tidak? Seperti ada makhluk asing yang ke mana pun pergi selalu dilihat orang. Kalaupun tak sampai bertanya, mata mereka bisa berkata, “Anak itu kenapa?”

Ya, memang seperti itu kondisinya. Tapi percayalah, bahwa semua itu akan berlalu. Seiring dengan perkembangannya, kemampuannya berdiri, berjalan, dan berlari dengan senyum yg menghiasi hari, semua perasaan sedih akan terobati.

Berdo’a lah kepada Yang Maha Memberi. Kita ini hanya bisa menerima dan menjalani takdir-Nya. Karena hanya Dia yang Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

 

Homeschooling for Down Syndrome

hs-sarah

 

Sebelum memutuskan untuk homeschooling, Sarah sudah melewati proses belajar di sekolah umum.
Sekolah umum pertamanya adalah sebuah PAUD sederhana di kampung kami. Dengan fasilitas seadanya dan juga jumlah siswa yang tidak terlalu banyak.
Sarah berada di PAUD ini kurang lebih setahun, yaitu saat usianya tiga tahun. Lalu berhenti dan meanjutkan ke TK umum selama dua tahun.
Di TK umum, selama dua tahun, lebih sering ditunggui oleh khadimat (ART), dan selama itu Sarah masih belum bisa mengikuti pelajaran di kelas dengan baik. Dia masih suka-suka sendiri. Kadang mau di kelas, kadang jika bosan langsung keluar kelas. Ya, begitulah. Karena anak down syndrome kami ini memangΒ moody.
Sampai akhirnya , ketika sy pindahkan ke TK lain (TK Islam, yang menurut sy lebih baik dari segi agamanya) Sarah masih tetap menunjukkan perilaku yang sama.
Di TK Islam itu, Sarah hanya bertahan dua bulan saja. Plus, saat itu saya mendapat kesempatan untuk terjun langsung mendampingi ustadzah di kelas Sarah.

Dua bulan berjalan.

Sarah bisa sedikit-sedikit mengikuti kegiatan. Namun, kadang sering keluar kelas, mengintip kelas lain, atau bermain saja, sesukanya. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, melalui obrolan dengan sang ayah, kami memutuskan agar saya mendampingi Sarah saja di rumah. Dan hari ini adalah hari ke dua Sarah belajar di rumah. Tentu saja bersama sang adik yang masih berusia dua tahun.

Faktanya, dan saya memang harus menerimanya πŸ˜€ Sarah dan adiknya masih pantas berada dalam satu kelas homeschooling di rumah. Tak perlu lebay nangis2 jika tes IQ menyebutkan bahwa kemampuan anak Down Syndrome usia enam tahun itu masih setara dengan anak dua atau tiga tahun.

Happy saja πŸ˜€

Next insya Allah sy posting kegiatan-kegiatan dalam homeschooling kami. Menunggu waktu luang, tentu saja. Seperti sekarang, saat istirahat dan mereka bermain kartu bergambar hewan dan ngobrol berdua.